Saturday, 24 October 2015

Mempengaruhi Perilaku (Psikologi Manajemen, pertemuan ke-4)

Model Mempengaruhi Orang Lain

Menurut Aristotle menyatakan bahwa terdapat 3 pendekatan dasar dalam komunikasi yang mampu mempengaruhi orang lain, yaitu;

1. Logical argument (logos), yaitu penyampaian ajakan menggunakan argumentasi data-data yang ditemukan.



2. Psychological/emotional argument (pathos), yaitu penyampaian ajakan menggunakan efek emosi positif maupun negatif. Misalnya, gambar yang menarik, lucu dan membuat kita berempati termasuk menggunakan pendekatan psychological argument dengan efek emosi yang positif. Sedangkan gambar yang menjemukan, memuakkan bahkan membuat kita marah termasuk pendekatan psychological argument dengan efek emosi negatif.



3. Argument based on credibility (ethos), yaitu ajakan atau arahan yang dituruti oleh komunikate/ audience karena komunikator mempunyai kredibilitas sebagai pakar dalam bidangnya. Contoh, kita akan lebih menuruti nasihat seorang dosen ketimbang teman kita sendiri. Dalam hal ini keutamaan atribusi seorang dinilai.



Menurut Burgon & Huffner (2002), terdapat beberapa pendekatan yang dapat dilakukan agar komunikasi persuasi menjadi lebih efektif. Maksudnya lebih efektif yaitu agar lebih berkesan 

dalam mempengaruhi orang lain. Beberapa pendekatan itu antaranya;



1. Pendekatan berdasarkan bukti, yaitu mengungkapkan data atau fakta yang terjadi sebaga bukti argumentatif agar berkesan lebih kuat terhadap ajakan.



2. Pendekatan berdasarkan ketakutan, yaitu menggunakan fenomena yang menakutkan bagi audience atau komunikate dengan tujuan mengajak mereka menuruti pesan yang diberikan komunikator. Misalnya, jika harga BBM mahal maka masyarakat akan beralih menggunakan teransportasi umum yang telah dicanangkan pemerintah.



3. Pendekatan berdasarkan humor, yaitu menggunakan humor atau fantasi yang bersifat lucu dengan tujuan memudahkan masyarakat mengingat pesan karena mempunyai efek emosi yang positif. Contoh, menggunakan stand up comedy sebagai media untuk iklan agar menarik.



4. Pendekatan berdasarkan diksi, yaitu menggunakan pilihan kata yang mudah diingat (memorable) oleh audience/komunikate dengan tujuan membuat efek emosi positif atau negative.



Wewenang

Wewenang adalah kekuasaan yang dipakai seseorang yang bisa secara formal maupun informal dalam suatu tim atau pemerintahan atau non-pemerintahan. Terutama, wewenang formal adalah kekuasaan sah. Wewenang formal adalah tipe kekuasaan yang kita hubungkan dengan struktur organisasi dan manajemen. Kekuasaan itu berdasarkan pengakuan keabsahan usaha manajer untuk menggunakan pengaruh.



Jenis Wewenang :

a) Wewenang Lini (line authority)

Wewenang lini adalah wewenang manajer yang bertanggu jawab langsung, di seluruh rantai komando organisasi, untuk mencapai sasaran organisasi. Wewenang lini diwujudkan dengan rantai komando standar, mulai dari dewan direktur sampai tempat aktivitas dasar organisasi dilaksanakan. Wewenang lini terutama didasarkan pada kekuasaan sah. Misalnya, manajer perusahaan manufaktur mungkin membatasi fungsi lini pada produksi dan penjualan, sedangkan manajer di departement store, dengan elemen kunci adalah pembelian,akan mempertimbangkan departemen pembelian dan departemen penjualan sebagai aktivitas lini. Kalau sebuah perusahaan kecil, semua posisi mungkin mempunyai posisi lini.

b) Wewenang Staf (staff authority)

Wewenang staf adalah kelompok individu yang menyediakan saran dan jasa kepada manajer lini. Staf memberikan berbagai tipe bantuan pakar dan saran kepada manajer. Wewenang staf terutama didasarkan pada kekuasaan keahlian. Staf dapat menawarkan manajer lini saran perencanaan lewat penelitian, analisis, dan pengembangan pilihan. Staf dapat juga membantu dalam implementasi kebijakan, memonitor, dan kendali; dalam masalah legal dan keuangan; dan dalam desain dan operasi sistem pemrosesan data. Misalnya, rekan dalam banyak kantor pengacara menambah anggota staf untuk melaksanakan“sisi bisnis” dari kantor tersebut. Kehadiran dari spesialis ini membebaskan pengacara untuk mempraktekan ilmu hukum, fungsi lini mereka.





DAFTAR PUSTAKA



Cholisin, M. Si dkk. 2006. Dasar-dasarIlmuPolitik. Yogyakarta : FISE UNY

Nasikun. (1993). Sistem Sosial Indonesia, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada

Munandar, A.S. 2001. Psikologi Industri dan Organisasi. Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia

Sarwono, S. W. (2005). Psikologi Sosial: Psikologi Kelompok dan Psikologi Terapan. Jakarta: Balai Pustaka

Friday, 16 October 2015

Mempengaruhi Perilaku (Definisi dan Kunci-kunci Perubahan Perilaku)



A. Mempengaruhi Perilaku

1. Pengaruh menurut KBBI adalah daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang

atau benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan atau perbuatan

seseorang.

2. Pengertian Pengaruh Menurut Para Ahli

a. Pengertian Pengaruh Menurut Wiryanto

Pengaruh merupakan tokoh formal mauoun informal di dalam masyarakat,

mempunyai ciri lebih kosmopolitan, inovatif, kompeten, dan aksesibel dibanding pihak yang dipengaruhi

b. Pengertian Pengaruh Menurut Norman Barry

Pengaruh adalah suatu tipe kekuasaan yang jika seorang yang dipengaruhi

agar bertindak dengan cara tertentu, dapat dikatakan terdorong untuk

bertindak demikian, sekalipun ancaman sanksi yang terbuka tidak

merupakan motivasi yang mendorongnya

c. Pengertian Pengaruh Menurut Uwe Becker

Pengaruh adalah kemampuan yang terus berkembang yang berbeda dengan

kekuasaan--tidak begitu terkait dengan usaha memperjuangkan dan

memaksakan kepentingan

d. Pengertian Pengaruh Menurut Robert Dahl

A mempunyai pengaruh atas B sejauh ia dapat menyebabkan B untuk

berbuat sesuatu yang sebenarnya tidak akan B lakukan

e. Pengertian Pengaruh Menurut Bertram Johannes Otto Schrieke

Pengaruh merupakan bentuk dari kekuasaan yang tidak dapat diukur

kepastiannya.

2. Kunci-kunci perubahan perilaku

Perubahan perilaku adalah penerapan yang terencana dan sistematis dari

prinsip belajar yang telah ditetapkan untuk mengubah perilaku maladaptif

(Fisher & Gochros, 1975)





Karakteristik perubahan perilaku

·Fokus kepada perilaku (prosedur perubahan perilaku dirancang untuk merubah perilaku bukan merubah karakter atau sifat seseorang)

-Perilaku yang dirubah disebut target perilaku meliputi perilaku yang berlebihan atau perilaku yang tidak/kurang dimiliki oleh orang

·Prosedurnya didasarkan kepada prinsip-prinsip behavioral. Perubahan perilaku adalah penerapan prinsip-prinsip dasar yang awalnya berasal dari penelitian eksperimental dengan binatang dilaboratorium (Skiner, 1938).

·Penekanannya kepada peristiwa-peristiwa didalam lingkungan. Perubahan perilaku meliputi asesmen dan perubahan peristiwa-peristiwa lingkungan yang mempunyai hubungan fungsional dengan perilaku

·Treatment dilakukan oleh orang didalam kehidupan sehari-hari (Kazdin, 1994). Perubahan perilaku akan lebih efektif apabila dikembangkan oleh orang-orang yang berada dilingkungan individu yang perilakunya menjadi target perubahan seperti guru, orangtua atau orang lain yang dilatih tentang perubahan perilaku

·Pengukuran perubahan perilaku. Melakukan pengukuran sebelum dan sesudah intervensi dilakukan untuk melihat perubahan perilaku. Asesmen terus dilakukan setelah intervensi untuk melihat apakah perubahan perilaku yang sudah terjadi dapat terjaga.

·Mengabaikan peristiwa-peristiwa masa lalu sebagai penyebab perilaku. Penekanan perubahan perilaku kepada peristiwa-peristiwa lingkungan saat ini yang menjadi penyebab perilaku sebagai dasar pemilihan intervensi perubahan perilaku yang tepat.

·Menolak hipotetis yang mendasari penyebab perilaku. Skiner (1974) menjelaskan bahwa dugaan terhadap penyebab yang mendasari perilaku tidak pernah dapat diukur atau dimanipulasi untuk menunjukkan hubungan fungsional perilaku.




3. Model mempengaruhi orang lain dan perannya dalam psikologi manajemen

Cara mempengaruhi orang lain dengan dasar Pendekatan komunikasi persuasi dikemukakan oleh Aristotle yang menyatakan terdapat 3 pendekatan dasar dalam komunikasi yang mampu mempengaruhi orang lain, yaitu;

1. Logical argument (logos), yaitu penyampaian ajakan menggunakan argumentasi data-data yang ditemukan. Hal ini telah disinggung dalam komponen data.

2. Psychological/ emotional argument (pathos), yaitu penyampaian ajakan menggunakan efek emosi positif maupun negatif. Misalnya, iklan yang menyenangkan, lucu dan membuat kita berempati termasuk menggunakan pendekatan psychological argument dengan efek emosi yang positif. Sedangkan iklan yang menjemukan, memuakkan bahkan membuat kita marah termasuk pendekatan psychological argument dengan efek emosi negatif.

3. Argument based on credibility (ethos), yaitu ajakan atau arahan yang dituruti oleh komunikate/ audience karena komunikator mempunyai kredibilitas sebagai pakar dalam bidangnya. Contoh, kita menuruti nasehat medis dari dokter, kita mematuhi ajakan dari seorang pemuka agama, kita menelan mentah-mentah begitu saja kuliah dari dosen. Hal ini semata-mata karena kita mempercayai kepakaran seseorang dalam bidangnya.

Menurut Burgon & Huffner (2002), terdapat beberapa pendekatan yang dapat dilakukan agar komunikasi persuasi menjadi lebih efektif. Maksudnya lebih efektif yaitu agar lebih berkesan dalam mempengaruhi orang lain. Beberapa pendekatan itu antaranya;

1. Pendekatan berdasarkan bukti, yaitu mengungkapkan data atau fakta yang terjadi sebaga bukti argumentatif agar berkesan lebih kuat terhadap ajakan.

2. Pendekatan berdasarkan ketakutan, yaitu menggunakan fenomena yang menakutkan bagi audience atau komunikate dengan tujuan mengajak mereka menuruti pesan yang diberikan komunikator. Misalnya, bila terjadi kejadian luar biasa (KLB) demam berdarah maka pemerintah dengan pendekatan ketakutan dapat mempersuasi masyarakat untuk mencegah DBD.

3. Pendekatan berdasarkan humor, yaitu menggunakan humor atau fantasi yang bersifat lucu dengan tujuan memudahkan masyarakat mengingat pesan karena mempunyai efek emosi yang positif. Contoh, iklan-iklan yang menggunakan bintang comedian atau menggunakan humor yang melekat di hati masyarakat.

4. Pendekatan berdasarkan diksi, yaitu menggunakan pilihan kata yang mudah diingat (memorable) oleh audience/komunikate dengan tujuan membuat efek emosi positif atau negative. Misalnya, iklan rokok dengan slogan “Yang penting happy”



4. Wewenang dan peran wewenang dalam manajemen

Wewenang merupakan kekuasaan yang memiliki keabsahan(legitimate power)

Peran wewenang dalam manajemen.

·Wewenang lini (Linie authority) yaitu wewenang yang mengalir secara vertikal. Pelimpahan wewenang dari atas ke bawah dan pengawasan langsung oleh pemimpin kepada staf yang menerimanya.

·Wewenang staf (Staf authority) yaitu wewenang yang mengalir ke samping yaitu wewenang yang diberikan kepada staf khusus untuk membantu melancarkan tugas staf yang diberikan wewenang lini. Wewenang staf diberikan karena ada spesialisasi adanya tugastugas menegerial yang terkait dengan fungsi staf seperti pengawasan, pelayanan kepada staf, atau penasihat.



Daftar Pustaka

Munandar, A.S. 2001. Psikologi Industri dan Organisasi. Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia.



Cholisin, M. Si dkk. 2006. Dasar-dasarIlmuPolitik. Yogyakarta : FISE UNY.

Nasikun. (1993). Sistem Sosial Indonesia, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Sarwono, sarlito W. (2005). Psikologi social (psikologi kelompok dan psikologi terapan). Jakarta : Balai Pustaka.

Munandar, A.S. 2001. Psikologi Industri dan Organisasi. Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia.

http://www.psikologizone.com/cara-mempengaruhi-orang-lain/06511947

http://yosiabdiantindaon.blogspot.com/2012/11/pengertian-pengaruh.html

http://fatih-io.biz/definisi_dan_pengertian_pengaruh_menurut_para_ahli.html

Saturday, 10 October 2015

Komunikasi

Definisi Komunikasi

Menurut Onong Uchjana Effendy komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahu, mengubah sikap, pendapat, atau perilaku, baik secara lisan (langsung) ataupun tidak langsung (melalui media).

Komunikasi pada dasarnya merupakan suatu proses yang menjelaskan siapa? mengatakan apa? dengan saluran apa? kepada siapa? dengan akibat atau hasil apa? (who? says what? in which channel? to whom? with what effect?). (Lasswell 1960).

Komunikasi adalah proses interaksi atau hubungan saling pengertian satu sama lain antara sesama manusia. Proses interaksi atau hubungan satusama lain yang dikehendaki oleh seorang dengan maksud agar dapat diterima dan dimengertiantara sesamanya. (Soewarno Handaya Ningrat. Pengantar Ilmu Studi Dan Manajemen.CV HajiMasagung, Jakarta, 1980, hal 94).

Komunikasi adalah proses pemindahan pengertian dalambentuk gagasan atau informasi dari seseorang ke orang lain. Perpindahan pengertian tersebutmelibatkan lebih dari sekedarkata-kata yang digunakan dalam percakapan, tetapijuga ekspresiwajah, intonasi, titik putus tidak hanya memerlukan transmisi data, tetapi bahwa tergantug padaketrampilan- ketramilan tertentu untuk membuat sukses pertukaran informasi. (T. Hani Handoko,Manajemen, BPFE Yogyakarta, 1986, hal 272).

Komunikasi adalah usah mendorong orang lain untukmenginterprestasikan pendapat seerti apa yang dikehendaki oleh orang yang mempunyaipendapat tersebut serta diharapkan diperoleh titik kesamaan untuk pengertian.

Salah satu kebutuhan pokok manusia , seperti dikatakan Susanne K. Langer, adalah kebutuhan simbolis atau penggunaan lambang. Manusia memang satu-satunya hewan yang menggunakan lambang , dan itulah yang membedakan manusia dengan hewan lainnya. Ernest Cassirer mengatakan bahwa keunggulan manusia atau mahluk lainnya adalah keistimewaan mereka sebagai animal symbolicum.

Lambang atau simbol adalah sesuatu yang digunakan untuk menunjukkan sesuatu lainnya, berdasarkan kesepakatan sekelompok orang. Lambang meliputi kata-kata (pesan verbal), perilaku non verbal, dan objek yang maknanya disepakati bersama. Kemampuan manusia menggunakan lambang verbal memungkinkan perkembangan bahasa dan menangani hubungan antara manusia dan objek (baik nyata maupun abstrak) tanpa kehadiran manusia atau objek tersebut.





Dimensi Komunikasi

Dimensi isi disandi secara verbal, sementara dimensi hubungan disandi secara nonverbal. Dimensi isi menunjukkan muatan (isi) komunikasi, yaitu apa yang dikatakan. Sedangkan dimensi hubungan menunjukkan bagaimana cara mengatakannya yang juga mengisyaratkan bagaimana hubungan para komunikasi itu, dan bagaimana seharusnya pesan itu ditafsirkan.

Dalam komunikasi massa, dimensi isi merujuk pada isi pesan, sedangkan dimensi hubungan merujuk kepada unsur-unsur lain, termasuk juga jenis saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan tersebut. Pengaruh suatu berita atau artikel dalam surat kabar, misalnya, hanya bukan bergantung pada isinya, namun juga pada siapa, penulisnya, tata letak (lay out)-nya, jenis huruf yang digunakan, warna tulisan, dan sebagainya.

1. Dimensi Komunikasi Sistem Organisasi

a. Komunikasi Internal

Komunikasi internal organisasi adalah proses penyampaian pesan antara anggota-anggota organisasi yang terjadi untuk kepentingan organisasi, seperti komunikasi antara pimpinan dengan bawahan, antara sesama bawahan, dsb. Proses komunikasi internal ini bisa berujud komunikasi antarpribadi ataupun komunikasi kelompok. Juga komunikasi bisa merupakan proses komunikasi primer maupun sekunder (menggunakan media nirmassa). Komunikasi internal ini lazim dibedakan menjadi dua, yaitu:

· Komunikasi vertikal, yaitu komunikasi dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas. Komunikasi dari pimpinan kepada bawahan dan dari bawahan kepada pimpinan. Dalam komunikasi vertikal, pimpinan memberikan instruksi-instruksi, petunjuk-petunjuk, informasi-informasi, dll kepada bawahannya. Sedangkan bawahan memberikan laporan-laporan, saran-saran, pengaduan-pengaduan, dsb. kepada pimpinan.

· Komunikasi horizontal atau lateral, yaitu komunikasi antara sesama seperti dari karyawan kepada karyawan, manajer kepada manajer. Pesan dalam komunikasi ini bisa mengalir di bagian yang sama di dalam organisasi atau mengalir antarbagian. Komunikasi lateral ini memperlancar pertukaran pengetahuan, pengalaman, metode, dan masalah. Hal ini membantu organisasi untuk menghindari beberapa masalah dan memecahkan yang lainnya, serta membangun semangat kerja dan kepuasan kerja.

b. Komunikasi Eksternal

Komunikasi eksternal organisasi adalah komunikasi antara pimpinan organisasi dengan khalayak di luar organisasi. Pada organisasi besar, komunikasi ini lebih banyak dilakukan oleh kepala hubungan masyarakat dari pada pimpinan sendiri. Yang dilakukan sendiri oleh pimpinan hanyalah terbatas pada hal-hal yang ianggap sangat penting saja. Komunikasi eksternal terdiri dari jalur secara timbal balik:

·Komunikasi dari organisasi kepada khalayak. Komunikasi ini dilaksanakan umumnya bersifat informatif, yang dilakukan sedemikian rupa sehingga khalayak merasa memiliki keterlibatan, setidaknya ada hubungan batin. Komunikasi ini dapat melalui berbagai bentuk, seperti: majalah organisasi; press release; artikel surat kabar atau majalah; pidato radio; film dokumenter; brosur; leaflet; poster; konferensi pers.

·Komunikasi dari khalayak kepada organisasi. Komunikasi dari khalayak kepada organisasi merupakan umpan balik sebagai efek dari kegiatan dan komunikasi yang dilakukan oleh organisasi.



2. Dimensi Komunikasi Antar Budaya

Dari tema pokok demikian, maka perlu pengertian – pengertian operasional dari kebudayaan dan kaitannya dengan KAB. Untuk mencari kejelasan dan mengintegrasikan berbagai konseptualisasi tentang kebudayaan komunikasi antar budaya, ada 3 dimensi yang perlu diperhatikan(kim.1984:17-20).

1. Tingkat masyarakat kelompok budaya dari partisipan-partisipan komunikasi.

2. Konteks sosial tempat terjadinya KAB.

3. Saluran yang dilalui oleh pesan-pesan KAB (baik yang bersifat verbal maupun nonverbal).

Sumber :

http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_definisi_komunikasi

http://andriejangkung.wordpress.com/2013/03/08/dimensi-dimensi-komunikasi-antar-budaya/

http://irfazain.blogspot.com/2012/11/dimensikomunikasi-dalam-kehidupan.html

Friday, 2 October 2015

Psikologi Manajemen (Pertemuan 1)



A. Manajemen






Pengertian Manajemen:


Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Stoner).






Fungsi Manajemen:


1. Perencanaan


2. Pengorganisasian


3. Pengarahan


4. Pengawasan






Psikologi manajemen adalah suatu ilmu yang mengatur sumber daya yang ada untuk memenuhi kebutuhan manusia itu sendiri.


Sumber daya manusia adalah hal terpenting, karena ilmu psikologi mengacu pada manusa yang memiliki motivasi, sikap kerja, keterampilan, dll dengan bermacam-macam metode dan teknik.






Fungsi-fungsi manajemen






1. Fungsi perencanaan:


Proses yang menyangkut usaha yang dilakukan untuk mengantisipasi kecenderungan di masa yang akan datang dan penentuan strategi dan taktik yang tepat untuk mewujudkan target dan tujuan organisasi






2. Pengorganisasian


Proses yang menyangkut bagaimana strategi dan taktik yang telah dirumuskan dalam perencanaan didesain dalam sebuah struktur organisasi yang kondusif, dan dapat memastikan bahwa semua pihak dalam organisasi dapat bekerja secara efektif dan efisien guna pencapaian tugas organisasi kegiatan dala, fungsi perorganisasian.






3. Pengarahan:


Agar dapat dijalankan oleh seluruh pijhak dalam organisasi serta proses memotivasi agar semua pihak tersebut dapat menjalankan tanggung jawabnya dengan penuh kesadaran dan produktifitas yang tinggi.






4. Pengawasan: Untuk


Untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan yang telah direncanakan, diorganisasikan dan diimplementasikan dapat berjalan sesuai dengan target yang diharapkan sekalipun berbagai perubahan terjadi dalam lingkungan dunia bisnis yang dihadapi.

Daftar pustaka:

Riyono Bagus dan Emi Zulaifah. 2001. Psikologi Kepemimpinan.


Yogyakarta: Unit Publikasi Fakultas Psikologi UGM





Siti Partini Suardiman. 1980. Kelompok dan Kepemimpinan.


Yogyakarta: FIP IKIP Yogyakarta


B. Organisasi


1. Organisasi adalah suatu pola hubungan-hubungan yang melalui orang-orang di bawah pengarahan atasan mengejar tujuan bersama (Stoner).


2. Organisasi merupakan suatu sistem aktifitas kerja sama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih (Chester I. Bernard).


3. Organisasi merupakan kesatuan sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi, yang bekerja atas dasar yang relatif terus menerus untuk mecapai suatu tujuan bersama atau sekelompok tujuan (Stephen P. Robbins).


Organisasi dapat dibagi dengan beberapa klasifikasi:


1. Organisasi dalam arti statis


Melihat organisasi sebagai sesuatu yang tidak bergerak atau diam


Dilihat sebagai wadah untuk mencapai suatu tujuan, wadah bekerja sama, wadah bagi administrasi dan manajemen yang memungkinkannya bergerak



2. Organisasi dalam arti dinamis


Organisasi merupakan organ yang hidup, selalu bergerak, mengadakan pembagian tugas berdasarkan sistem dan ruang lingkup. Terdiri dari sekelompok orang yang bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama.


3. Organisasi sebagai sistem kerjasama


Adanya sekelompok orang yang mengadakan kerjasama yang dilandasi oleh kesamaan tujuan. Suatu sistem mengenai pekerjaan-pekerjaan yang dirumuskan dengan baik dan dilengkapi dengan wewenang, tugas, dan tanggung jawab.


4. Organisasi sebagai sistem tata hubungan kerja.


A. Tata hubungan pribadi


B. Tata hubungan formal


C. Tata hubungan informal


D. Tata hubungan tidak langsung


E. Tata hubungan vertikal


F. Tata hubungan horizontal


G. Tata hubungan diagonal


5. Organisasi sebagai proses pembagian tugas


Suatu proses menetapkan dan mengelompokan jenis pekerjaan yang diikuti pelimpahan wewenang dan tanggung jawab. Rangkaian bagian-bagian saling tergantung dan berdiri sebagai sebuah satu kesatuan yang utuh.


Proses pembagian tugas dan menentukan siapa yang mengemban tugas dan tanggung jawab. Proses kegiatan penyusunan, pengembangan, pemeliharaan dari pola hubungan kerja dari bagian-bagian/individu-individu dalam organisasi.






Daftar Pustaka


http://hipni.blogspot.com/2011/08definisi-pengertian-organisasi.html


http://id.wikipedia.org/wiki/organisasi


http://lista.staff.gunadarma.ac.id/macam-organisasi.pdf


http://www.scribd.com/doc/50580788/ORGANISASI-REGIONAL


http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/10/organisasi-internasional/wikipedia.com


http://windsaga.blogspot.com/2011/03/hubungan-antara-manajemen

Wednesday, 27 May 2015

Hubungan Kesehatan Mental dengan Spiritualitas



A. Definisi Kesehatan Mental



Kesehatan mental adalah terhindarnya individu dari simtom-simtom neurosis dan psikosis. Definisi ini dapat dukungan dari kalangan psikiater.

Kesehatan mental adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan diri sendiri, dengan orang lain, dan dengan masyarakat dimana ia hidup. Untuk dapat menyesuaikan diri dengan diri sendiri orang harus menerima dirinya sebagaimana adanya, dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Di samping itu, orang harus berusaha mengenal, memahami, dan menilai orang lain secara objektif.

Menurut definisi ini, orang yang bermental sehat adalah orang yang dapat menguasai segala faktor dalam hidupnya sehingga ia dapat mengatasi kekalutan mental sebagai akibat dari tekanan-tekanan perasaan dan hal-hal yang menimbulkan frustasi.

Kesehatan mental adalah pengetahuan dan perbuatan yang bertujuan untuk mengembangkan dan memanfaatkan segala kapasitas, kreativitas, energi, dan dorongan yang ada semaksimal mungkin sehingga membawa kepada kebahagiaan diri dan orang lain serta terhindar dari gangguan atau penyakit mental (neurosis dan psikosis).

Kesehatan mental tidak hanya jiwa yang sehat berada dalam tubuh yang sehat (mens sana in corpora sano), tetapi juga suatu keadaan yang berhubungan erat dengan seluruh eksistensi manusia. Itulah suatu keadaan kepribadian yang bercirikan kemampuan seseorang untuk menghadapi kenyataan dan untuk berfungsi secara efektif dalam suatu masyarakat yang dinamik.


B. Hubungan Kesehatan Mental dengan Spiritualitas

Sudah seharusnya di zaman yang modern ini kita sebagai manusia tidak hanya harus memiliki kecerdasan intelegensi ataupun kecerdasan emosi tetapi kecerdasan spiritual harus dimiliki. Seseorang yang mempunyai intelegensi tinggi tanpa kecerdasan emosi akan sangat percma, begitu juga intelegensi tanpa kecerdasan spiritual juga akan sia-sia. Tetapi, intinya adalah bahwa kecerdasan itelegensi, kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual harus ada dalam diri seorang manusia. Ketiga elemen tersebut saling mendukung dalam proses pembelajaran yang signifikan dan terarah.

Orang yang memiliki spiritual yang baik, maka ketika orang itu memiliki tekanan yang negatif mereka akan dapat melaluinya dengan mudah, karena ada sifat kebenaran yang bersifat ontologis naturalis; bahwa kebenaran yang didasari adanya Allah sang pencipta. Kesadaran yang muncu terhadap mental yang sehat adalah menyadari adanya prinsip ketuhanan sebagai energi bagi dirinya yang mampu menguasai dirinya sendiri maupun orang lain.



DAFTAR PUSTAKA


Semium, Yustinus. 2006. Kesehatan Mental 1. Yogyakarta: Kanisius

Santoso, J.E. 2007. The Art of Life Revolution. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo

Fenomena Depresi



Fenomena Depresi


A.) DEFINISI DEPRESI


Depresi merupakan reaksi normal terhadap peristiwa kehilangan, hambatan dalam kehidupan, atau harga diri yang terluka. Namun ketika perasaan sedih yang mendalam, tidak berdaya, putus asa dan tidak berharga itu berlangsung selama beberapa hari sampai berminggu-minggu dan menyebabkan Anda tidak bisa beraktivitas normal serta membuat Anda tidak bisa beraktivitas normal, maka hal ini bisa menjadi depresi klinis. Kondisi medis ini tidak sama dengan depresi biasa, namun dapat diobati. Menurut DSM-IV, yaitu panduan yang digunakan untuk mendiagnosa gangguan mental, depresi terjadi ketika Anda memiliki setidaknya lima dari gejala berikut ini, pada saat yang sama:


A. Hampir sepanjang hari merasa depresi, terutama di pagi hari,

B. Hampir setiap hari kelelahan atau hilang energi.

C. Hampir setiap hari merasa bersalah atau tidak berharga

D. Gangguan konsentrasi, keragu-raguan

E. Hampir setiap hari mengalami Insomnia (ketidakmampuan / sulit untuk tidur) atau hipersomnia (tidur berlebihan)

G. Hampir setiap hari merasa kehilangan minat atau kesenangan dalam kegiatan sehari-hari

H. Berulang kali memikirkan tentang kematian atau bunuh diri. Tidak takut akan kematian

I. Rasa gelisah


J. Penurunan atau kenaikan berat badan yang signifikan.


B.) PENYEBAB & GEJALA DEPRESI.


Banyak sekali istilah yang berhubungan atau mengartikan gangguan kejiwaan. Diantaranya adalah perilaku atau psikologi abnormal, perilaku maladaptif, gangguan mental, gangguan emosional, psikopatologi, disfungsi psikologi, sakit mental, gangguan perilaku, dan gila. Dalam pengelompokan istilah-istilah ini, depresi termasuk ke dalam kelompok gangguan mental atau mental disorder yang semula digunakan untuk nama gangguan-gangguan yang berhubungan dengan patologi otak, tetapi saat ini jarang digunakan. Nama ini jadi sering digunakan sebagai istilah yang umum untuk setiap gangguan dan kelainan.


Salah satu tanda utama dari depresi adalah suasan hati / perasaan yang sedih atau kehilangan minat dalam kegiatan yang biasanya di sukai. Untuk mendiagnosis depresi, tanda-tanda tersebut harus ada di sepanjang hari atau hampir setiap hari selama setidaknya dua minggu. Selain itu, gejala depresi perlu menyebabkan perasaan tertekan yang mendalam atau gangguan klinis yang signifikan. Namun perlu diperhatikan bahwa gangguan klinis tersebut bukan akibat efek langsung dari zat tertentu, misalnya pengobatan atau narkoba, serta bukan merupakan akibat dari kondisi medis, seperti hipotiroid. Terakhir, gejala yang terjadi dalam waktu dua bulan akibat kehilangan orang yang dicintai, tidak dianggap sebagai depresi klinis. Menurut Institut Nasional Kesehatan Jiwa Amerika Serikat, orang yang menderita depresi, tidak mengalami gejala yang sama. Jadi tingkat keparahan, frekuensi dan lamanya depresi akan bervariasi, tergantung pada individu dan penyebabnya. Berikut ini adalah gejala umum penderita depresi:

1. Kesulitan berkonsentrasi, mengingat detail, dan membuat keputusan


2. Kelelahan dan energi berkurang


3. Perasaan bersalah, tidak berharga, dan / atau tidak berguna


4. Perasaan putus asa dan / atau pesimis


5. Insomnia, terjaga sampai pagi, atau tidur berlebihan


6. Mudah tersinggung, gelisah


7. Kehilangan minat dalam kegiatan atau hobi yang dulu disenangi, termasuk seks


8. Kehilangan kesenangan dalam hidup


9. Terlalu banyak makan atau hilang nafsu makan


10. Nyeri atau sakit yang menetap, sakit kepala, kram, atau masalah pencernaan yang tidak berkurang bahkan dengan pengobatan


11. Perasaan sedih, cemas, atau “kosong” yang menetap


12. Berpikir bunuh diri atau mencoba bunuh diri


Depresi membawa resiko bunuh diri yang tinggi. Siapa saja yang mengungkapkan pikiran untuk bunuh diri atau berniat bunuh diri, harus ditanggapi dengan sangat serius. Segera hubungi dokter atau profesional di bidang kesehatan mental.


Peringatan tanda-tanda bunuh diri antara lain:


Berpikir atau berbicara tentang kematian atau bunuh diri

Berpikir atau berbicara menyakiti diri sendiri atau mencelakai orang lain

Perilaku agresif atau impulsif

Usaha bunuh diri yang pernah dilakukan sebelumnya, akan meningkatkan tingkat risiko untuk melakukan bunuh diri di masa depan. Setiap orang yang pernah mengucapkan bunuh diri atau kekerasan, harus ditanggapi dengan serius.


C.) JENIS-JENIS DEPRESI


Ada beberapa jenis depresi, antara lain:

1. Depresi Berat


2. Depresi Kronis (dysthymia)


3. Depresi Bipolar


4. Depresi Musiman (seasonal affective disorder / SAD, yaitu gangguan afektif musiman)


5. Depresi Psikotik


6. Depresi Postpartum


7. Substance-induced mood disorder (SIMD) yaitu gangguan mood hasil penggunaan zat tertentu.


Depresi Ganda, yaitu kondisi yang terjadi ketika seseorang dengan depresi kronis (dysthymia) mengalami depresi berat


Depresi Sekunder, yaitu depresi yang muncul setelah perkembangan kondisi medis tertentu, seperti hipotiroid, stroke, penyakit Parkinson, atau AIDS, atau setelah masalah kejiwaan, misalnya skizofrenia, gangguan panik, atau bulimia.


Pengobatan Depresi Kronis yang resisten, yaitu kondisi yang berlangsung lebih dari setahun , serta sangat sulit diobati dengan antidepresan dan psikoterapi. Untuk kasus ini, terapi electroconvulsive (ECT) biasanya merupakan pilihan pengobatan yang digunakan.Depresi Tersembunyi, yaitu depresi yang bersembunyi di balik keluhan fisik dan tidak dapat ditemukan penyebab organiknya.


D). CONTOH KASUS

Sheyna, 13 tahun, memiliki orangtua yang overprotective dan sangat menuntut supaya Sheyna mengikuti apa saja perintah yang diberikan kepadanya.

Sheyna merupakan anak bungsu dari 3 bersaudara, dan hanya ia yang perempuan. Sheyna menganggap dirinya sangat bergantung pada orangtua, ditambah lagi orangtua memperlakukan Sheyna seperti anak kecil yang berusia di bawah usia dirinya.

Kedua kakak Sheyna sangat pembangkang bahkan kakak pertama Sheyna (18 tahun) pernah blak-blakan mengaku kepada orangtua mereka bahwa ia telah melakukan aktivitas seksual dengan teman di sekolah. Tentu saja, orangtua menjadi sangat marah, apalagi orangtua sangat strict terhadap isu-isu seksual. Bahkan, orangtua selalu membahas kepada Sheyna dan kedua kakak bahwa virginity itu harus dijaga hingga kelak menikah. Kondisi kakaknya ini berbanding terbalik dengan Sheyna yang sangat pasif dan penurut, serta menjadi satu-satunya anak yang dianggap “baik” oleh orangtuanya sehingga Sheyna dijuluki “Little Miss Perfect”.

Ada riwayat sakit mental di dalam keluarga Sheyna. Nenek kandung Sheyna dari pihak Ibu serta Bibi Sheyna dari pihak Ayah sama-sama menderita depresi.

Sheyna mengalami insomnia sejak ia berusia 10 tahun. Setiap malam ia mengalami kesulitan untuk tidur dan akhirnya mengganggu kegiatan belajar di sekolah. Nilai Sheyna sampai mengalami penurunan yang cukup parah, sehingga orangtua memutuskan supaya Sheyna menjalani home-schooling saja supaya Sheyna dapat mengatur waktu kapan untuk belajar. Perilaku insomnia ini dialami Sheyna pasca pertengkaran hebat di dalam keluarga, di mana kakak pertama Sheyna ternyata sampai menghamili temannya di sekolah. Pada saat itu, kondisi rumah sangat “panas”, Ayah dan Ibu selalu bertengkar setiap ada kesempatan di pagi-siang-sore-malam. Keadaan semakin memanas karena kakak pertama Sheyna sempat kabur dari rumah bersama teman yang ia hamili, sehingga memicu pertengkaran antara keluarga Sheyna dengan keluarga yang anaknya dihamili oleh kakak Sheyna tersebut. Kondisi tersebut berlangsung hingga kurang-lebih dua bulan dan sejak itu, Sheyna sulit sekali memejamkan mata seberapa pun dirinya mengantuk karena bayangan pertengkaran dan suasana memanas itu selalu menghantui Sheyna. Untuk pertama kalinya, di masa sebulan itu, Sheyna mengalami ledakan emosi yang tinggi.

Sejak saat itu, Sheyna juga semakin sering menyendiri di dalam kamar untuk menghindari pertengkaran. Bagi Sheyna, dia menjadi lebih rileks dengan berada di dalam kamar. Dia juga semakin bisa berpikir, mencari tahu, dan menganalisa segala hal yang ia senangi. Sheyna tertarik dengan politik dan memiliki pemikiran tersendiri tentang politik, misalnya ia percaya bahwa dirinya merupakan reinkarnasi dari seorang politikus Romawi di masa lalu.

Keluarga dan teman-teman Sheyna melihat Sheyna sebagai orang yang sangat rapi dan teroganisir. Sheyna senang menuliskan apapun ide-ide yang ia miliki dan menuliskan di buku diary, komputer, bahkan dinding kamarnya penuh dengan papernote yang ditempelkan secara berantakan dan berisi ide-idenya tersebut. Kebanyakan ide yang Sheyna tuliskan berisi tentang hal-hal yang selama ini dianggap tabu untuk dibicarakan di dalam keluarganya, seperti tentang dorongan seksual dan tingkat spiritualitas. Aktivitas ini semakin menjadi-jadi saat ia merasakan gairah luar biasa untuk melakukan sesuatu.

Selama proses pertengkaran di dalam keluarganya, Sheyna sempat mengalami depresi dan depresi yang ia miliki semakin menjadi-jadi karena hingga saat ini Sheyna masih menderita insomnia. Sheyna juga menderita kesulitan untuk makan dan konsentrasi. Di puncak depresinya, Sheyna akhirnya beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri. Beruntung, Ibu selalu menemukan Sheyna tepat waktu sehingga Sheyna masih bisa diselamatkan.


BD6

Bipolar Disorder Pada Anak dan Remaja


Istilah Bipolar Disorder (BD) dimunculkan karena pada kasus-kasus ganggguan jenis ini, anak tidak hanya akan mengalami periode episode mania (manic episodes) serta juga akan mengalami depresi (depression episodes) seumur hidup mereka. Manic dan depression sendiri merupakan dua hal yang saling berlawanan dan berbeda kutub.

Ada empat jenis mood episodes di dalam BD yaitu mania, hypomania, depresi, dan episode campuran. Ketika sedang berada dalam episode mania, maka anak akan mengalami peningkatan aktivitas fisik maupun mental. Misalnya, menjadi sangat bersemangat ketika melakukan banyak kegiatan, serta memiliki banyak ide-ide baru yang ingin diwujudkan. Sebaliknya, ketika ia sedang berada dalam episode depresi, maka ia akan mengalami penurunan aktivitas. Misalnya, anak menjadi tidak tertarik melakukan kegiatan sehari-hari, mengurung diri dalam suatu ruangan dan tertutup. Episode mania biasanya dimulai dengan tiba-tiba dan berlangsung antara dua minggu hingga lima bulan, sedangkan episode depresi cenderung berlangsung lebih lama.

BD2

Gangguan bipolar merefleksikan adanya gangguan pada sistem motivasional yang disebut dengan Behavioral Activation System atau BAS. BAS memfasilitasi kemampuan manusia untuk memperoleh reward dari lingkungannya dan ini dikaitkan dengan positive emotional states yang dimiliki seseorang, karakteristik kepribadian seperti extrovert, peningkatan energi, dan berkurangnya kebutuhan untuk tidur.

Secara biologis, BAS diyakini terkait dengan jalur syaraf dalam otak yang melibatkan dopamine neurotransmitter dan juga terkait dengan perilaku untuk memperoleh reward tertentu. Peristiwa kehidupan yang melibatkan pencapaian tujuan atau reward diprediksi meningkatkan simptom mania. Sedangkan peristiwa positif lainnya tidak terkait dengan perubahan pada simptom mania, dan pencapaian tujuan tidak terkait dengan perubahan dalam simptom depresi. Dengan demikian, BAS dan manifestasi perilakunya, yaituperilaku untuk mencapai tujuan diasosiasikan dengan simptom mania dari gangguan bipolar.

Anak-anak dan remaja menunjukkan kemiripan dengan orang dewasa dalam hal mood yang depresif, tidak mampu untuk merasakan kesenangan, kelelahan, sulit konsentrasi, dan ide bunuh diri. Perbedaannya terletak pada tingkat usaha untuk bunuh diri dan rasa bersalah yang lebih tinggi pada anak dan remaja, sering bangun lebih awal di pagi hari, kehilangan selera makan dan kehilangan berat badan, serta depresi di pagi hari pada orang dewasa.

Terkadang depresi disebut sebagai masked depression, yaitu menampilkan perilaku agresif dan menyimpang, yang biasanya pada orang dewasa tidak dilihat sebagai refleksi dari depresi.

Masalah utama dalam melakukan diagnosis depresi pada anak-anak terletak pada komorbiditas dengan gangguan lain, misalnya kecemasan. Lebih dari 70% dari anak-anak yang depresi juga memiliki gangguan kecemasan atau simptom kecemasan yang signifikan. Anak-anak yang berusia lebih muda cenderung mengalami pengalaman depresi yang parah dan membutuhkan waktu yang lama untuk penyembuhan.

Secara umum, depresi muncul kurang dari 1% pada anak-anak prasekolah dan 2–3% pada anak usia sekolah. Pada remaja, rata-rata penderita depresi sama dengan orang dewasa, dengan rata-rata 7-13% dan lebih banyak muncul pada anak perempuan.

Masalah genetis adalah faktor umum yang menjadi penyebab BD. Anak yang memiliki salah satu orangtua dengan BD memiliki resiko mengidap penyakit yang sama sebesar 15-30%. Apabila kedua orangtuanya mengidap BD, maka anak-anaknya beresiko mengalami BD sebesar 50-75%. Kembar identik dari seorang pengidap BD juga memiliki resiko tertinggi akan juga mengalami BD dibandingkan anak yang bukan kembar identik.

Orangtua dengan anak yang mengalami depresi biasanya juga memiliki saudara dekat (first-degree relatives) yang mengalami mood disorder. Ibu yang mengalami depresi juga besar kemungkinan akan memiliki anak yang juga mengalami depresi.

Secara fisiologis, salah satu faktor utama penyebab seseorang mengidap BD adalah karena terganggunya keseimbangan cairan kimia utama di dalam otak seperti hormon norepinephrin, dopamine, dan serotonine. Sebagai contoh, ketika seseorang yang mengalami BD dan kadar dopamine dalam otaknya sedang tinggi, maka saat itu ia akan merasa sangat bersemangat, antusias, dan agresif.

Ada pula Central Nervous System (CNS) yang mempengaruhi mood seseorang. Pentingnya pengaruh CNS pada mood seseorang sudah diketahui sejak lama, diawali dengan adanya penelitian terhadap orang dewasa yang diberi obat reserpine untuk menurunkan tekanan darah tinggi. Hasilnya, 20% dari orang tersebut menjadi mengalami depresi parah. Sejak saat itu, diketahui bahwa reserpine memang menurunkan pergerakan dari monoamine neurotransmitters (norepinephrin, dopamine, dan serotonine) dalam CNS. Penemuan ini mengarahkan pada munculnya monoamine hypothesis, yaitu penurunan monoamine neurotransmitters menyebabkan depresi. Hipotesis ini rpada perkembangan pengobatan trycyclic antidepressant, seperti imipramine, yang menyebabkan peningkatan monoamine neurotransmitters dan mengurangi perasaan depresi.

Penelitian selanjutnya menemukan bahwa monoamine hypothesis terlalu sederhana karena ditemukan juga neurotransmitters lainnya yang banyak berpean dalam depresi. Ada pula peranan hypothalamus-pituitary-adrenal (HPA) yang merespon stress.

Sementara itu, secara psikologis, seseorang yang mengalami banyak tekanan dari dalam maupun luar dirinya akan dapat mengalami disstres berkepanjangan. Apabila tidak ditambah dengan strategi pemecahan masalah (coping) yang memadai, maka ia pun dapat menderita BD.

Pola asuh orangtua yang neglectful dan abusive juga mempengaruhi perkembangan anak, di mana anak berkemungkinan untuk mengalami depresi yang disebabkan oleh stress. Bayi atau anak yang masih kecil yang belum mampu melakukan regulasi emosi atau mood negatif akan mengalami mood negatif lebih sering dan memakan waktu lebih lama, di mana hal ini meningkatkan kemungkinan mereka untuk mengembangkan perilaku BD pada masa anak-anak dan remaja. Regulasi emosi ini mengacu pada proses pengaturan pengendalian, dan modifikasi dari emotional arousal untuk menghasilkan perilaku yang adaptif. Tujuan utama dari regulasi emosi pada bayi adalah supaya mereka mempelajari cara untuk meregulasi dorongan emosi yang disebabkan stress fisiologis, seperti kebutuhan untuk mendapatkan makanan. Meskipun bayi memiliki kemampuan untuk menenangkan diri sendiri di masa-masa stressful, namun pengaturan terhadap dorongan tersebut harus dibantu oleh orang lain seperti dengan digendong, diberi makan, dan diberi kehangatan emosional.



Refrensi :


Wiramihardja, Sutardjo A. (2004). Pengantar Psikologi Klinis.

       Bandung: Penerbit PT. Refika Aditama (2004).

Basuki, A.M Heru. (2008). Psikologi Umum. Jakarta: Universitas Gunadarma


Kolom Psikologi (19 Oktober 2013). Bipolar anak. Diperoleh 27 Mei 2015, dari https://kolompsikologi.wordpress.com/2013/10/19/bipolar-anak/


Dokita. (2015). Apa Itu Depresi. Diperoleh 27 Mei 2015, dari http://dokita.co/blog/apa-itu-depresi/





Sunday, 29 March 2015

Sejarah, konsep, dan perbedaan konsep Barat dan Timur Kesehatan Mental

Sejarah Kesehatan Mental

Sejarah membuktikan pada zaman homo sapiens, nenek moyang kita dahulu mengalami gangguan-gangguan mental. Mereka mengalami berbagai kecelakaan dan demam yang merusak mental mereka, dan mereka merusak mental orang-orang lain dala perkelahian-perkelahian. Sejak saat itu manusia dengan rasa putus asa selalu menjelaskan penyakit mental, mengatasinya, dan memulihkan kesehatan mental. Mereka menggabungkan kekalutan-kekalutan mental dengan gejala alam, pengaruh buruk orang lain, atau roh-roh jahat.
Semua nenek moyang homo sapiens kadang-kadang harus sangat memperhatikan kesehatan mental. Ia mungkin menghibur seorang temannya yang sedang kebingungan, atau berteriak dengan menatap langit yang gelap untuk menjernihkan pikiran ketika bangun dari mimpi buruk dicakar harimau. Di zaman sekarang manusia masih berusaha menjelaskan penyakit mental dan persoalan menghilangkan penyakit mental tersebut—dan hal ini menjadi teka-teki yang paling sulit selama berabad-abad.
Sejarah yang tercatat melaporkan berbagai macam interpretasi mengenai penyakit mental dan cara-cara menguranginya atau menghilangkannya. Pada umumnya hal tersubut mencerminkan tingkat pengetahuan dan kecenderungan-kecenderungan religius, filosofis, dan keyakinan-keyakinan serta kebiasaan-kebiasaan masyarakat zaman itu. Usaha-uasaha lebih awal dalam mengenai masalah tersebut penuh dengan kesulitan, dan perkembangan ilmu kesehatan mental sangat lambat. Hal ini disebabkan dua hal, pertama, sifat dari masalah-masalah yang disebabkan oleh tingkah laku abnormal membuatnya menjadi hal tersendiri karena perasaan takut, malu, dan bersalah dalam keluarga-keluarga dan masyarakat dari para pasien. Oleh karena itu, penanganan terhadap orang-orang yang sakit mental diserahkan kepada negara atau lembaga agama yang menjadi pelindung baik tingkah laku kelompok ataupun tingkah laku individu. Kedua, perkembangan semua ilmu pengetahuan begitu lambat dan sporadis, dan banyak kemajuan sangat penting yang telah dicapai mendapat perlawanan yang sangat keras. Meskipun benar bahwa pada masa-masa awal orang yang sakit mental dipahami secara salah atau diperlakukan kurang baik, namun banyak orang normal/sehat bukanlah orang-orang yang paling bahagia.

KONSEP SEHAT

Konsep Sehat itu adalah sebuah keadaan normal yang sesuai dengan standar yang diterima berdasarkan kriteria tertentu, sesuai jenis kelamin dan komunitas masyarakat. Itu adalah pengertian sehat yang saya mengerti pada awalnya. Dan setelah sekian lama Sehat Kita Semua tidak memposting makan pada kali kesempatan ini setelah vakum cukup lama akan memberikan hal sedikit tentang beberapa hal yangb berhubungan dengan konsep dan pengertian sehat ini. Hidup sehat dan dalam kesehatan akan sangat membantu kita dalam melakukan berbagai macam aktifitas kehidupan sert arutinitas yang bisa dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Karena bila dalam keadaan sekita atau poun kurang sehat maka hal ini akan mempengaruhi akan produktifitas kita juga.Dimulai dari apa yang dimaksud dengan pengertian sehat ini. Pengertian sehat menurut WHO adalah suatu keadaan yang sempurna baik fisik, mental dan sosial tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan. Dan beberapa pengertian sehat lainnya yaitu diantaranya : 1. Sehat adalah perwujudan individu yang diperoleh melalui kepuasan dalam berhubungan dengan orang lain (aktualisasi). Perilaku yang sesuai dengan tujuan, perawatan diri yang kompeten sedangkan penyesuaian diperlukan untuk mempertahankan stabilitas dan integritas struktural. ( Menurut Pender, 1982 ) 2. Sehat / kesehatan adalah suatu keadaan sejahtera dari badan (jasmani), jiwa (rohani) dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.( Menurut UU N0. 23/1992 tentang kesehatan) 3. Sehat adalah fungsi efektif dari sumber-sumber perawatan diri (self care Resouces) yang menjamin tindakan untuk perawatan diri ( self care actions) secara adekuat. Self care Resouces : mencakup pengetahuan, keterampilan dan sikap. Self care Actions merupakan perilaku yang sesuai dengan tujuan diperlukan untuk memperoleh, mempertahankan dan meningkatkan fungsi psikososial dan spiritual. (Menurut Paune, 1983)

Konsep Timur dan Barat

Kesehatan mental dipengaruhi oleh budaya pada masing-masing negara. Kesehatan dan gerakan kesehatan mental dipengaruhi oleh budaya pula. Seseorang dapat dikatakan sehat atau sakit mental bergantung pada budaya masing-masing (Marsell dan White, 1984). Hubungan kebudayaan dengan kesehatan mental dikemukakan oleh Wallace tahun 1963, yaitu:
Kebudayaan yang mendukung dan menghambat kesehatan mental. 2. Kebudayaan memberi peran tertentu terhadap penderita gangguan mental. 3. Berbagai bentuk gangguan mental karena faktor kultural, dan 4. Upaya peningkatan dan pencegahan gannguan mental dalam telaah budaya.    Selain itu budaya juga mempengaruhi tindakan penanganan yang dilakukan terhadap         gangguan mental itu sendiri. Dengan kata lain Konsep kesehatan mental pada suatu budaya tertentu harus dipahami dari hal-hal yang dianggap mempunyai arti dan bermakna pada suatu budaya tertentu, sehingga harus dipahami dari nilai-nilai dan falsafah suatu budaya tertentu.
Perbedaan pada kesehatan mental pada budaya timur dan barat. Konsep barat adalah bersifat dualistik yaitu mengibaratkan manusia sebagai mesin yang dipengaruhi oleh dominasi medis. Sedangkan timur lebih bersifat holistik yaitu melihat secara keseluruhan dan saling berkaitan sehingga berpengaruh pada cara penanganan terhadap penyakit.

Referensi

Rizke.(2015).Tugas 1 Kesehatan Mental: Sejarah Kesehatan Mental, Konsep sehat, Perbedaan Konsep Kesmen Barat dan Timur.https://rizkenandiniati.wordpress.com/2015/03/15/tugas-1-kesehatan-mental-sejarah-kesehatan-mental-konsep-sehat-perbedaan-konsep-kesmen-barat-dan-timur/, 15 Maret 2015.

Semium, Yustinus. 2006. Kesehatan Mental 1. Yogyakarta: Kanisius.